Jumat, 18 Oktober 2013

KALIMAT DASAR BAHASA INDONESIA


1.      Pengertian bahasa
Kalimat adalah gabungan dari dua buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir. Kalimat terdiri dari berbagai unsur seperti subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Sebuah kalimat dikatakan sempurna jika memiliki minimal dua unsur yaitu subjek dan predikat.

2.      Unsur-Unsur Kalimat
Dalam menuliskan kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar maka kita harus ketahui unsur-unsur yang biasanya dipakai dalam sebuah kalimat. Dalam bahasa Indonesia digunakan aturan SPO atau SPOK (Subjek, Predikat, Objek atau Subjek, Predikat, Objek, Keterangan). Berikut beberapa unsur kalimat :

a.         Subjek (S)
Subjek adalah unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat di samping unsur predikat. Dengan mengetahui ciri-ciri subjek secara lebih terperinci, kalimat yang dihasilkan dapat terpelihara strukturnya.
Ciri-ciri subjek sebagai berikut.     
ü  Jawaban atas Pertanyaan Apa atau Siapa
Penentuan subjek dapat dilakukan dengan mencari jawaban atas pertanyaan apa atau siapa yang dinyatakan dalam suatu kalimat.  Contoh :  Andi adalah seorang dokter.

ü  Disertai Kata Itu
Kebanyakan subjek dalam bahasa Indonesia bersifat takrif (definite). Untuk menyatakan takrif, biasanya digunakan kata itu. Subjek yang sudah takrif misalnya nama orang, nama negara, instansi, atau nama diri lain tidak disertai kata itu. Contoh : Tas itu dibeli oleh ibu.

ü  Didahului Kata Bahwa
Di dalam kalimat pasif kata bahwa merupakan penanda bahwa unsur yang menyertainya adalah anak kalimat pengisi fungsi subjek. Di samping itu, kata bahwa juga merupakan penanda subjek yang berupa anak kalimat pada kalimat yang menggunakan kata adalah atau ialah. Contoh : Bahwa pengurus OSIS harus segera dibentuk pada rapat hari ini.

ü  Mempunyai Keterangan Pewatas Yang
Kata yang menjadi subjek suatu kalimat dapat diberi  lebih lanjut dengan menggunakan penghubung yang. Keterangan ini dinamakan keterangan pewatas. Contoh : Mahasiswa yang ingin lulus harus mengikuti ujian diakhir semester.



ü  Tidak Didahului Preposisi
Subjek tidak didahului preposisi, seperti dari, dalam, di, ke, kepada, pada. Orang sering memulai kalimat dengan menggunakan kata-kata seperti itu sehingga menyebabkan kalimat-kalimat yang dihasilkan tidak bersubjek.

ü  Berupa Nomina atau Frasa Nominal
Subjek kebanyakan berupa nomina atau frasa nominal. Di samping nomina, subjek dapat berupa verba atau adjektiva, biasanya, disertai kata penunjuk itu. Contoh : Menjahit itu menyenangkan.

b.      Predikat (P)
Predikat juga merupakan unsur utama suatu kalimat di samping subjek. Predikat berfungsi menjelaskan subjek. Ciri-ciri predikat adalah sebagai berikut:
ü  Jawaban atas Pertanyaan Mengapa atau Bagaimana
Dilihat dari segi makna, bagian kalimat yang memberikan informasi atas pertanyaan mengapa atau bagaimana adalah predikat kalimat. Pertanyaan sebagai apa atau jadi apa dapat digunakan untuk menentukan predikat yang berupa nomina penggolong (identifikasi). Contoh : Wanita itu pandai.

ü  Kata Adalah atau Ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata adalah atau ialah. Predikat itu terutama digunakan jika subjek kalimat berupa unsur yang panjang sehingga batas antara subjek dan pelengkap tidak jelas. Contoh : Mawar adalah bunga favoritku.

ü  Dapat Diingkarkan
Predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai bentuk pengingkaran yang diwujudkan oleh kata tidak. Bentuk pengingkaran tidak ini digunakan untuk predikat yang berupa verba atau adjektiva. Di samping tidak sebagai penanda predikat, kata bukan juga merupakan penanda predikat yang berupa nomina atau predikat kata merupakan. Contoh : Kamu tidak hadir dalam pesta kemarin. 

ü  Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau Modalitas
Predikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva dapat disertai kata-kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan. Kata-kata itu terletak di depan verba atau adjektiva. Kalimat yang subjeknya berupa nomina bernyawa dapat juga disertai modalitas, kata-kata yang menyatakan sikap pembicara (subjek), seperti ingin, hendak, dan mau. Contoh :            Kakekku akan datang ke Indonesia.


ü   Unsur Pengisi Predikat
Predikat suatu kalimat dapat berupa Kata, misalnya verba, adjektiva, atau nomina. Frasa, misalnya frasa verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa numeralia (bilangan).

c.       Objek (O)
Objek yaitu keterangan predikat yang memiliki hubungan erat dengan predikat. Unsur kalimat ini bersifat wajib dalam susunan kalimat aktif transitif yaitu kalimat yang sedikitnya mempunyai tiga unsur utama, subjek, predikat, dan objek. Predikat yang berupa verba intransitif (kebanyakan berawalan ber- atau ter-) tidak memerlukan objek, sedangkan verba transitif yang memerlukan objek kebanyakan berawalan me-. Ciri-ciri objek sebagai berikut:
ü  Langsung di Belakang Predikat
Objek hanya memiliki tempat di belakang predikat, tidak pernah mendahului predikat. Contoh : Barbara memberikan Jo kulkas baru.

ü  Dapat Menjadi Subjek Kalimat Pasif
Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subjek dalam kalimat pasif yang disertai dengan perubahan bentuk verba predikatnya. Contoh : Pisang itu dimakan monyet.

ü  Tidak Didahului Preposisi
Objek yang selalu menempati posisi di belakang predikat tidak didahului preposisi. Dengan kata lain, di antara predikat dan objek tidak dapat disisipkan preposisi.Contoh : Dia mengirimi saya bunga mawar.

ü  Didahului Kata Bahwa
Anak kalimat pengganti nomina ditandai oleh kata bahwa dan anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat transitif.

d.      Pelengkap (Pel.)
Pelengkap merupakan unsur kalimat yang dapat bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat. Pelengkap dan objek memiliki kesamaan. Kesamaan itu ialah kedua unsur kalimat ini :
1.      Bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat.
2.      Menempati posisi di belakang predikat.
3.      Tidak didahului preposisi.
Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap. Berikut ciri-ciri pelengkap.

ü  Di Belakang Predikat
Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek. Contohnya : Dian membuatkan saya kue.

ü  Tidak Didahului Preposisi
Seperti objek, pelengkap tidak didahului preposisi. Contoh : Putri bermain biola.

e.       Keterangan (K)
Unsur kalimat yang didahului preposisi disebut keterangan. Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi informasi tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan tujuan. Keterangan ini dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa frasa ditandai oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang, oleh, dan untuk. Keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan kata penghubung, seperti ketika, karena, meskipun, supaya, jika, dan sehingga. Ciri unsur keterangan :
ü  Bukan Unsur Utama
Berbeda dari subjek, predikat, objek, dan pelengkap, keterangan merupakan unsur tambahan yang kehadirannya dalam struktur dasar kebanyakan tidak bersifat wajib.

ü  Tidak Terikat Posisi
Di dalam kalimat, keterangan merupakan unsur kalimat yang memiliki kebebasan tempat. Keterangan dapat menempati posisi di awal atau akhir kalimat, atau di antara subjek dan predikat. Contoh : Besok pagi, Kakek akan kembali ke desa.

ü  Terdapat Beberapa Jenis Keterangan
Keterangan dibedakan berdasarkan perannya di dalam kalimat.
1.      Keterangan Waktu
Keterangan waktu dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa kata adalah kata-kata yang menyatakan waktu, seperti kemarin, besok, sekarang, kini, lusa, siang, dan malam. Keterangan waktu yang berupa frasa merupakan untaian kata yang menyatakan waktu, seperti kemarin pagi, hari Senin, 7 Mei, dan minggu depan. Keterangan waktu yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor yang menyatakan waktu, seperti setelah, sesudah, sebelum, saat, sesaat, sewaktu, dan ketika.
2.      Keterangan Tempat
Keterangan tempat berupa frasa yang menyatakan tempat yang ditandai oleh preposisi, seperti di, pada, dan dalam.


3.       Keterangan Cara
Keterangan cara dapat berupa frasa, atau anak kalimat yang menyatakan cara. Keterangan cara yang berupa frasa ditandai oleh kata dengan atau secara yang diikuti verba (kata kerja). Terakhir,  keterangan cara yang berupa anak kalimat ditandai oleh kata dengan dan dalam.
4.       Keterangan Alat
Keterangan cara berupa frasa yang menyatakan cara ditandai oleh kata dengan yang diikuti nomina (kata benda).
5.      Keterangan Sebab
Keterangan sebab berupa frasa atau anak kalimat. Keterangan sebab yang berupa frasa ditandai oleh kata karena atau sebab yang diikuti oleh nomina atau frasa nomina. Keterangan sebab yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor karena atau lantaran.
6.      Keterangan Tujuan
Keterangan tujuan yang berupa frasa ditandai oleh kata untuk atau demi, sedangkan keterangan tujuan yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor supaya, agar, atau untuk.
7.      Keterangan Aposisi
Keterangan aposisi memberi penjelasan nomina, misalnya, subjek atau objek. Jika ditulis, keterangan ini diapit tanda koma, tanda pisah (--), atau tanda kurang.
8.      Keterangan Tambahan
Keterangan tambahan memberi penjelasan nomina (subjek ataupun objek), tetapi berbeda dari keterangan aposisi. Keterangan aposisi dapat menggantikan unsur yang diterangkan, sedangkan keterangan tambahan tidak dapat menggantikan unsur yang diterangkan.
9.       Keterangan Pewatas
Keterangan pewatas memberikan pembatas nomina, misalnya, subjek, predikat, objek, keterangan, atau pelengkap. Jika keterangan tambahan dapat ditiadakan, keterangan pewatas tidak dapat ditiadakan.

3.      Pola dasar kalikmat bahasa Indonesia
a.        Kalimat berpola SP
Kalimat tipe ini memiliki unsur subjek dan predikta. Predikat kalimat untuk tipe ini dapat berupa kata kerja, kata benda, kata sifat. Contoh :
Andi    sedang belajar.
  S                   P

b.       Kalimat berpola SPO
Kalimat tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan objek. Contoh :
Mereka     sedang mengerjakan    tugas
   S                        P                       O  

c.        Kalimat berpola SPPel
Kalimat tipe ini memiliki unsur subjek, predikat danpelengkap. Contoh:
Pamanku     memelihara    kucing
    S                   P               O

d.       Kalimat berpola SPOPel
Kaliat ini memiliki unsur subjek, predikat, objek dan pelengkap. Contoh :
Ibu    membuatkan   saya   baju
 S              P             O      Pel

e.        Kalimat berpola SPK
Kalimat ini memiliki unsur subjek, predikat dan keteranga. Contoh :
Kami   berasal   dari Papua
   S          P          Ket

f.        Kalimat berpola SPOK
Kalimat ini memiliki unsur subjek, predikat, objek dan keterangan. Contoh :
Ayah    merapikan   buku    ke dalam lemari

Read more

Senin, 14 Oktober 2013

DIKSI ATAU PILIHAN KATA


            Diksi adalah pilihan kata dimana kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata meruoakan unsur yang sangat oenting baik dalam dunia karang-mengarang ataupun tutuk kata sehari hari. Dalam memilih kata yang tepat untuk menyatakna sesuatu kita dapat melihatnya pada kamus. Kata yang tepat akan membantu seseotang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya baik lisan mauppun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata harus pula sesuai dengan situasi dan tempat. Dalam karangan ilmiah, diksi dipakai untuk menyatakan sebuah konsep pembuktian, hasil pemikiran atau solusi dari suatu masalah. Berikut fungsi diksi antara lain:
a.       Melambangkan gagasan yang dieksresikan secara verbal.
b.      Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat.
c.       Mencegah perbedaan penafsiran.
d.      Mencegah salah pemahaman.
e.       Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

  Hal utama mengenai diksi adalah:
a.       Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokka kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan yang tepat dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
b.      Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa nuansa makna dari suatu gagasan yang ingin disamppaikan den kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
c.       Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau pembendaharaan kata bahasa itu, sedangkan yang dimaksun pembendaharaan atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimilik oleh sebuah bahasa.

  Syarat-syarat ketepatan diksi:
1.      Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang terkandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan misalnya, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunya dan ditelan. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.
Makna konotatif adalah makna asosiatif yaitu makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi dan kriteria tambahan yang dikenankan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dappat berati untung atau pukul. Makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman. Kata kamar kecil mengacum kepada kamar yang kecil (Denotatif) tetapi kamar kecil berarti juga jamban (konotatif). Dalam hal ini, kita kadang lupa apakah suatu makna kata adalah denotatif atau konotatif.

2.      Makna Umum dan Khusus
                Kata ikan memiliki acuan yang lebih luas daripada mujair atau tawes. Ikan tidak hanya mujair atau tidak seperti gurame, lele,tuna, nila dan ikan mas. Sebaliknya tawes pasti tergolong jenis ikan. Dalam hal ini kata acuan yang lebih luas disebut kata umum seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus disebut kata khusus seperti gurame.

3.      Kata Abstrak dan kata Konkret
Kata yang acuannya semakin mudah diserap pancaindra disebut kata konkret seperti meja, rumah, mobil, cantik, hangat. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap pancaindra kata itu disebut kata abstrak seperti gagasan, perdamaian. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang sifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata khusus terlalu diobral dalam suatu karangan maka karangan tersebut menjadi samar dan tidak cermat.


4.      Sinonim
       Sinonim adalah dua kata atau lebih yang asasnya mempunyai makna yang sama tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak hanya ada kesamaan atau kemiripan. Contoh cermat dan cerdik, keduankata itu bersinonim tetapi kedua kata tersebut tidak persis sama benar. Kesinoniman kata masih berhubungan dengan masalah makna denotatif  dan makna konotatif suatu kata.

5.      Kata Ilmiah dan kata Popular
Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunkan oleh kaum terpelajar terutama dalam tulisan ilmiah, pertemuan resmi serta diskusi khusus.
Yang membedakan kata ilmiah dengan kata populer adalah kata popuer digunkan dalam komunikasi sehari-hari. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan, kata ilmiah digunakan pada tulisan yang berbau pendidikan seperti, karya tulis imiah, skripsi, dan laporan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA
Read more

Selasa, 01 Oktober 2013

RAGAM BAHASA INDONESIA


Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang pemakaianya berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan menurut hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicaraan. Bahsa mengalami perubahan seiring dengan perubahan masyarakat. Perubahan itu berupa variasi-variasi bahasa yang dipakai sesuai keperluannya. Agar banyak variasi tidak mengurangi fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang efesien, dalam bahasa timbul mekanisme untuk memilih variasi tertentu yang cocok untuk keperluan tertentu yang disebut ragam bahasa setandar.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakanbahasa baku. 

    Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 3 jenis :

1.       Berdasarkan Media
2.       Berdasarkan Cara Pandang Penutur
3.       Berdasarkan Topik Pembicaraan

1.      Ragam bahasa berdasarkan media

·         Ragam lisan
Adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman.

Ragam bahasa lisan meliputi :

a.   Ragam bahasa cakapan adalah ragam bahasa yang dipakai apabila pembicara menganggap kawan bicara sebagai sesama, lebih muda, lebih rendah statusnya atau apabila topik pembicara bersifat tidak resmi.
b.   Ragam bahasa pidato adalah ragam bahasa yang digunakan saat membacakan pidato dimuka umum.Biasanya pidato berisi penegasan kalimat untuk bias diterima si pendengar.
c.   Ragam bahasa kuliah adalah ragam bahasa yang digunakan pada saat kuliah yaitu pada saat pembelajaran antar mahasiswa dan dosennya.
d.    Ragam bahasa panggung adalah ragam bahasa yang digunakan seseorang saat dpanggung ketika mengsi acara hiburan lain agar bias diterima penonton.


 Ciri – ciri ragam bahasa lisan :
a.   Memerlukan kehadiran orang lain
b.   Unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap
c.   Terikat ruang dan waktu
d.   Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara

Kelebihan ragam bahasa lisan :
a.    Dapat disesuaikan dengan situasi
b.    Faktor efisiensi
c.    Faktor kejelasan karena pembicara menambahkan unsure lain berupa  tekan dan gerak anggota badan agah pendengar mengerti apa yang dikatakan seperti situasi, mimik dan gerak-gerak pembicara.
d. Faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakannya.
e.  Lebih bebas bentuknya karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur
f.    Penggunaan bahasa lisan bisa berdasarkan pengetahuan dan penafsiran dari informasi audit, visual dan kognitif

Kekurangan ragam bahasa lisan :
a.  Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, bahkan terdapat frase-frase sederhana.
b. Penutur sering mengulangi beberapa kalimat
c. Tidak semua orang bisa melakukan bahasa lisan
d. Aturan-aturan bahasa yang dilakukan tidak formal

·         Ragam tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.

Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahsa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.

Ciri Ragam Bahasa Tulis :
1.      Tidak memerlukan kehadiran orang lain.
2.      Tidak terikat ruang dan waktu
3.      Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat
4.      Pembentukan kata dilakukan secara sempurna,
5.      Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap, dan
6.       Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu.
7.       Berlangsung lambat
8.       Memerlukan alat bantu


2.      Ragam bahasa berdasarkan cara pandang penutur

·         Ragam Bahasa Berdasarkan Daerah (logat/diolek)
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan “b” pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dan lain-lain. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan “t” seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.

·         Ragam Bahasa berdasarkan Pendidikan Penutur
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.

·         Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
            Bahasa baku dipakai dalam :
1.   Pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas    memberikan kuliah/pelajaran.
2.     Pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat.
3.     Komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang.
4.      Wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.


3.      Ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan
Terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.
Ciri-ciri ragam ilmiah :
a)      Bahasa Indonesia ragam baku
b)      Penggunaan kalimat efektif;
c)      Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda;
d)     Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias;
e)      Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
f)       Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.
Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan :
g)      Dia dihukum karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)
h)      Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam bisnis)
i)        Cerita itu menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
j)        Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
k)      Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam psikologi)


DAFTAR PUSTAKA



Read more