Minggu, 07 Juli 2013

BUDAYA ORGANISASI



BUDAYA ORGANISASI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Semenjak mausia dilahirkan, secara lagsung kita sudah berada dalam suatu organisasi kecil yang biasa kita sebut dengan keluarga. Dalam organisasi tersebut tercipta suatu budaya yang terbentu oleh individu-individu yang terlibat didalamnya. Budaya itu sendiri akan membedakan cara setiap individu itu bertindak dan berinteraksi dengan individu lainnya. Dengan sejalannya waktu budaya akan terbentu dalam organisasi dan dapat memberikan manfaat untuk organisasi itu sendiri.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Budaya Organisasi?
2.      Apa saja fungsi dari Budaya Organisasi?
3.      Apa saja tipologi Budaya Organisasi?

1.3  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah yang berjudul “Budaya Organisasi” adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Organisasi Umum 2.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Budaya Organisasi
            Kata budaya pertama kalo dikemukakan oleh antropologi bernana Edward B Tylor pada tahun 1871 bahwa “Budaya adalah sekumpulan pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hokum, adat, kapabilitas, dan kebiasaan yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota sebuah perkumpulan atau komunitas tertentu.”    
            Menurut Davis (1984) “Budaya Organisasi merupakan pola keyakinan dan nilai-nilai organisasional yang dipahami, dijiwai dan dipraktikan oleh organisasional sehingga pola tersebut membrikan arti tersendiri dan menjadi dasar berperilaku dalam organisasional.”
            Menurut Schein (1992) “Budaya Organisasi sebagai suatu pola dari asumsi-asumsi dasar yang ditemukan, diciptakan atau dikembangkasn oleh suatu kelompok tertentu dengan maksud agar organisasi belajar mengatasi atau menanggulangi masalah-masalah yang timbul sebagai akibat adaptasi eksternal dan integrasi internal yang sudah berjalan cukup baik.”
            Untuk memahami kehidupan organisasi diluar pendekatan budaya popular, dua ahli Michael E Pacanowsky dan Nick O’Donnell-Trujill menyusun Organizational Culture Theory yang membahas mengenai nila-nilai organisasi, cerita-cerita yang sering disampaikan, tujuan, tindakan dan filosofi organisasi. Kedua ahli teori tersebut menyataka bahwa “Budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki organisasi, tetapi organisasi itu sendiri adalah budaya.”

2.2 Fungsi Budaya Organisasi
            Dengan adanya budaya organisasi yaitu dengan adanya nilai-nilai yang dimengerti ditanamkan dan dilakukan oleh pelaku organisasi budaya organisasi dapat memberikan manfaat yag baik bagi jalannya suatu organisasi agar dapat terus berjalan dengan produktif dan memberikan perkembangan yang positif dari hari ke hari. Menurut Stephen P Robbins, budaya organisasi membawa fungsi, yaitu:
a.       Budaya organisasi menciptakan sesuatu pembeda yang jelas antara organisasi yang satu dengan yang lainnya.
b.      Budaya organisasi membawa suatu identitas bagi anggota-anggota organisasi.
c.       Budaya organisasi mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
d.      Budaya organisasi merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan standar- standar yang tepat.
e.       Budaya organisasi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku.
Dalam hubungannya dari segi sosial, budaya berfungsi sebagai perekat sosial yang membatu mempersatukan organisasi tu dengan memberikan standat-standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan para karyawan. Akhirnya budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan. (Moeljono Djokosantoso, Dr. 2005).

2.3 Tipologi Budaya Organisasi
            PengertianTipologi adalah suatu pengelompokan bahasa berdasarkan cirri khas tata kata dan tata kalimat (Mallinson dan Blake, 1981 :1-3). Tipologi budaya organisasi bertujuan untuk menunjukkan aneka budaya organisasi yang mungkin ada di realitas. Tipologi budaya organisasi dapat dapat diturunkan dari tipologi organisasi misalnya dengan membagi tipe organisasi dengan membuat tabulasi silang antara jenis kekuasaan dengan jenis keterlibatan individu di dalam organisasi.
Jenis kekuasaan dan keterlibatan individu dalam organisasi dibagi menjadi :
1.      Koersif
2.      Remunerative
3.      Normative
Tipologi budaya organisasi terdiri dari organisasi :
1.      Organisasi koersif adalah organissasi dimana para anggota organisasi harus mematuhi apapun peraturan yang berlaku.
2.      Organisasi utilitarian adalah organisasi dimana paea anggota diperlakukan secara adil dalam pekerjaan dan sesuai dengan standart atau ketentuan yang disepakati bersama oleh anggota organisasi.
3.      Organisasi normative adalah organisasi dimana para anggota organisasinya memberikan kontribusi tinggi pada komitmen karena menganggap organisasi adalah sama dengan tujuan diri mereka sendiri.


BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
 Budaya adalah sekumpulan pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hokum, adat, kapabilitas, dan kebiasaan yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota sebuah perkumpulan atau komunitas tertentu.
Fungsi budaya organisasi adalah sebagi perekat sosial dalam mempersatukan anggota dalam mencpai tujuan. Tipologi merupakan suatu pengelompokkan bahasa berdasarkan cirri khas tata kata dan tata kalimatnya. Bertujuan untuk menunjukkan aneka budaya orgaisasi yang mungkin ada direalitas.


DAFTAR PUSTAKA
Moeljono, Djokosantoso. Dr. 2005. BUDAYA ORGANISASI DALAM TANTANGAN, Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
R, Veithzal.2003. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta Raya : Grafindo Persada.




Read more

Jumat, 07 Juni 2013

IMBALAN DAN HUKUMAN DALAM ORGANISASI

Dalam organisasi kita pasti menjumpai banyak individu dengan sifat yang berbeda-beda. Sifat yang berbeda-beda ini akan membuat cara menghadapi nya pun berbeda. Semua kativitas dalam organisasi dipengaruhi oelh sifat individu yang berbeda-beda. Perbedaan sifat ini yang akan menjadi hal penting dalam suatu organisasi karena akan mempengaruhin kenerja nya dalam bekerja. Faktor-faktor seperti perbedaan usia, suku, agama, dan lingkungan keluargalah yang membentuk kepribadian individu tersebut. Karena perbedaan tersebut, maka akan ada sifat-sifat malas dan rajin dalam bekerja dan sifat sifat lan yang berpengaruh dalam kinerja sehingga diperlukan adanya imbalan dan hukuman agar indivudu tersebut dapat memperbaiki kinerjanya.

A. Imbalan

Imbalan atau kompensasi adalah faktor penting yang mempengaruhi bagaimana dan mengapa orang-orang bekerja pada suatu organisasi dan bukan pada organisasi yang lainnya. Perusahaan harus cukup kompetitif dengan beberapa jenis kompensasi untuk mempekerjakan, mempertahankan, dan memberi imbalan terhadap kinerja setiap individu di dalam organisasi. Sistem kompensasi dalam organisasi harus dihubungkan dengan dengan tujuan dan strategi organisasi serta keseimbangan antara keuntungan dan biaya pengusaha dengan harapan dari karyawan.

Program kompensasi dalam organisasi harus memiliki empat tujuan, antara lain :
(1) terpenuhinya sisi legal, dengan segala peraturan dan hukum yang sesuai
(2) efektifitas biaya untuk organisasi
(3) keseimbangan indivdual, internal, eksternal untuk seluruh karyawan
(4) peningkatan keberhasilan kinerja organisasi.

Menurut Ivancevich (1998) Compensation is the Human Resources Management function that deals with every type of reward individuals receive in exchange for performing organization tasks. Kompensasi adalah fungsi manajemen sumber daya manusia yang berkaitan dengan semua bentuk  penghargaan yang dijanjikan akan diterima karyawan sebagai imbalan dari pelaksanaan tugas dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan.
           
Tujuan adanya imbalan adalah sebagai penghargaan atas prestasi bekerja seorang karyawan sehingga karyawan tersebut terpacu untuk terus meningkatkan kinerja nya dalam bekerja. Selain sebagai penghargaan, imbalan dalam organisasi juga bertujuan untuk mencari sumber daya manusia yang berkualitas yang nantinya akan diharapkan bisa memajukan organisasi tersebut juga membuat karyawan-karyawan merasa betah bekerja dalam organisasi tersebut.

Pengaruhnya dalam kinerja adalah karyawan yang tadinya tidak bersemangat dalam bekerja menjadi termotivasi untuk semangat meningkatkan kinerjanya juga karyawan yang memang sudah berprestasi merasa dihargai dan ingin terus berprestasi.

B. Hukuman

Hukuman adalah suatu konsekuensi yang tidak menyenangkan terhadap suatu respons perilaku tertentu dengan tujuan untuk memperlemah perilaku tersebut dan mengurangi frekuensi perilaku yang berikutnya.

Ada tiga fungsi penting dari hukuman yang berperan besar bagi pembentukan tingkah laku yang diharapkan:
a.       Membatasi perilaku. Hukuman menghalangi terjadinya pengulangan tingkah laku yang tidak diharapkan.
b.      Bersifat mendidik.
c.       Memperkuat motivasi untuk menghindarkan diri dari tingkah laku yang tidak diharapkan.

Tujuan adanya hukuman adalah untuk membuat efek jera terhadap perilaku yang merugikan banyak pihak. Namun jika hukuman tersebut terlalu keras hal ini akan mengakibatkan timbulnya perilaku lainnya yang tidak diinginkan seperti menghindar dari hukuman, sikap perlawanan dan sabotase. Hal ini membuat para manajer yang akan menerapkan hukuman pun harus tmemperhatikan kondisi penyampain hukuman agar lebih efisien dan tidak menimbulkan perilaku lain yang tidak diinginkan seperti waktu, intensitas, jadwal, dan klarifikasi atas hukuman yang diberikan.

Pengaruhnya dalam kinerja adalah diharapkan seorang karyawan tersebut menjadi jera dan tidak melakukannya lagi. Namun jika terjadi perilaku perlawanan dan lainnya maka akan menghambat kinerja dan membuat yang lainnya pun terganggu.

DAFTAR PUSTAKA

Davis, Keith dan John W. Newstrom. 2003. Perilaku dalam Organisasi : Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Donnelly. Gibson and Ivancevich.1990. Organisasi (Perilaku, Struktur, Proses) Jilid 2. Jakarta: Erlangga.




Read more

Jumat, 03 Mei 2013

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI


Pengambilan Keputusan dalam Organisasi
Definisi
pengambilan keputusan yaitu proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Proses itu untuk menemukan dan menyelesaikan masalah dalam organisasi. J. Salusu (1966:47).
Pengambilan keputusan dalam organisasi merupakan hal penting yang akan dilakukan oleh ketua organisasi tersebut. Dalam pengambilan keputusan bukan hal yang mudah karena harus melalui pemikiran yang benar-benar matang agar keputusan yang diambil tidak mengecewakan dan dapat memajukan organisasi tersebut.

Jenis-jenis pengambilan keputusan
Secara umum keputusan dibedakan menjadi 2 keputusan yang diprogramkan (program decision)melibatkan masalah-masalah yang sederhana, umum, dan kerap terjadi dimana solusinya telah ditentukan sebelumnya. dan keputusan yang tidak diprogramkan (non-programmed decision) masalah-masalah lain yang lebih rumit.Louis E Boone dan David L. Kurtz (2007 : 394).
Jenis keputusan dibagi menjadi tiga macam :
1.        keputusan terstruktur adalah keputusan yang dilakukan secara berulang-ulang dan bersifat     rutin.
2.    Keputusan semiterstruktur adalah keputusan yang mempunyai sifat sebagai keputusan dapat ditangani oleh komputer dan yang lain tetap harus dilakukan oleh pengambil keputusan.
3.       Keputusan tak terstruktur adalah keputusan yang penangananya rumit, karena tidak terjadi berulang-ulang atau tidak sengaja terjadi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan
1.    Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.

2.    Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.

3.    Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
 
4.    Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.

5.    Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.

6.    Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.

Selanjutnya, John D.Miller dalam Imam Murtono (2009)  menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan.

Implikasi Manajerial dalam Pengambilan Keputusan :
Proses Pengambilan Keputusan dalam partisipatif dalam organisasi sekolah Manajerial yang baik. Rendahnya kemapuan kepala sekolah akan berpengaruh terhadap perolehan dukungan dari masyarakat khususnya dukungan dalam mengambilan keputusan yang dikeluarkan sekolah terkait dengan kebijakan dan rencana program pengembangan sekolah.


Daftar Pustaka
Prajudi, Atmosudirdjo S. 1982 Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan : Decision Making. Jakarta : Ghalia Indonesia.
P.Robbins, Stephen & Mary Coulter. 2005. Management, eight edition. Erlangga: Jakart.
Salusu, J. 1966. Pengambilan Keputusan Stratejik. Jakarta : Grasindo,
Read more

Minggu, 31 Maret 2013

PERAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat. Di dalam kelompok/organisasi itu selalu terdapat bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah penting untuk kelangsungan hidup kelompok, yang terdiri dari pemimpin dan bawahan/karyawan. Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Kerja sama tersebut terdiri dari berbagai maksud yang meliputi hubungan sosial/kebudayaan. Hubungan yang terjadi merupakan suatu proses adanya suatu keinginan masing-masing individu, untuk memperoleh suatu hasil yang nyata dan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan yang berkelanjutan.
Bila sasaran komunikasi dapat diterapkan dalam suatu organisasi baik organisasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan, maka sasaran yang dituju pun akan beraneka ragam, tapi tujuan utamanya tentulah untuk mempersatukan individu-individu yang tergabung dalam organisasi tersebut.
1.2  Batasan masalah
Dalam penulisan makalah ini akan dibahas tentang:
1.      Kategori komunikasi
2.      Definisi fungsional komunikasi organisasi
3.      Proses komunikasi organisasi
4.      Fungsi komunikasi dalam organisasi
5.      Hambatan komunikasi
1.3  Tujuan
Tujuan dari makalah yang berjudul ”Peran Komunikasi dalam Organisasi” adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Organisasi Umum 2
  
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kategori Komunikasi
Organisasi berasal dari kata Organizare yang berarti membentuk sebagai atau menjadi keseluruhan dari bagian yang saling bergantung atau terkoordinasi. Menurut Evert M Rogers dan Rekha Agarwala Rogers dalam bukunya Communications in Organization “ a stable system of individuals who work together to achieve, through a hierarchy of ranks and division of labour common goals” (suatau sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama melalui suatu jenjang kepangkatan dan pembagian tugas.
Komunikasi berasal dari bahasa latin communication, yang artinya sama. Maksudnya adalah komunikasi dapat terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan. Salah satu tujuan komunikasi adalah mengubah sikap dan perilaku seseorang ataupun sekelompok orang sebagaimana yang dikehendaki komunikator,agar isi pesan yang disampaikan dapat dimengerti, diyakini serta pada tahap selanjutnya.
Bila sasaran komunikasi dapat diterapkan dalam suatu organisasi baik organisasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan, maka sasaran yang dituju pun akan beraneka ragam, tapi tujuan utamanya tentulah untuk mempersatukan individu-individu yang tergabung dalam organisasi tersebut. Berdasarkan sifat komunikasi dan jumlah komunikasi menurut Onong Uchyana Effendi, dalam bukunya “Dimensi-Dimensi Komunikasi” hal. 50, komunikasi dapat digolongkan ke dalam tiga kategori:
1. Komunikasi antar pribadi
Komunikasi ini penerapannya antara pribadi/individu dalam usaha menyampaikan informasi yang dimaksudkan untuk mencapai kesamaan pengertian, sehingga dengan demikian dapat tercapai keinginan bersama.
2. Komunikasi kelompok
Pada prinsipnya dalam melakukan suatu komunikasi yang ditekankan adalah faktor kelompok, sehingga komunikasi menjadi lebih luas. Dalam usaha menyampaikan informasi, komunikasi dalam kelompok tidak seperti komunikasi antar pribadi.
3. Komunikasi massa
Komunikasi massa dilakukan dengan melalui alat, yaitu media massa yang meliputi cetak dan elektronik.
Dalam melakukan komunikasi organisasi, Steward L.Tubbs dan Sylvia Moss dalam Human Communication menguraikan adanya 3 (tiga) model dalam komunikasi:
1.  Model komunikasi linier (one-way communication), dalam model ini komunikator    memberikan suatu stimuli dan komunikan melakukan respon yang diharapkan tanpa mengadakan seleksi dan interpretasi. Komunikasinya bersifat monolog.
2.  Model komunikasi interaksional. Sebagai kelanjutan dari model yang pertama, pada tahap ini sudah terjadi feedback atau umpan balik. Komunikasi yang berlangsung bersifat dua arah dan ada dialog, di mana setiap partisipan memiliki peran ganda, dalam arti pada satu saat bertindak sebagai komunikator, pada saat yang lain bertindak sebagai komunikan.
3.   Model komunikasi transaksional. Dalam model ini komunikasi hanya dapat dipahami dalam konteks hubungan (relationship) antara dua orang atau lebih. Pandangan ini menekankan bahwa semua perilaku adalah komunikatif. Tidak ada satupun yang tidak dapat dikomunikasikan.
Mengenai organisasi, salah satu defenisi menyebutkan bahwa organisasi merupakan suatu kumpulan atau sistem individual yang melalui suatu hirarki/jenjang dan pembagian kerja, berupaya mencapai tujuan yang ditetapkan.  Dari batasan tersebut dapat digambarkan bahwa dalam suatu organisasi mensyaratkan:
  1. Adanya suatu jenjang jabatan ataupun kedudukan yang memungkinkan semua individu dalam organisasi tersebut memiliki perbedaan posisi yang jelas, seperti pimpinan, staff pimpinan dan karyawan.
  2. Adanya pembagian kerja, dalam arti setiap orang dalam sebuah institusi baik yang komersial maupun sosial, memiliki satu bidang pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.
Dengan landasan konsep-konsep komunikasi dan organisasi sebagaimana yang telah diuraikan, maka kita dapat memberi batasan tentang komunikasi dalam organisasi secara sederhana, yaitu komunikasi antarmanusia (human communication) yang terjadi dalam kontek organisasi.  Atau dengan meminjam definisi dari Goldhaber, komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergabung satu sama lain (the flow of messages within a network of interdependent relationships).

2.2 Definisi fungsional Komunikasi Organisasi
Komunikasi Organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.     
Komunikasi organisasi terjadi kapan pun, setidak-tidaknya satu orang yang menduduki suatu jabatan dalam suatu organisasi menafsirkan suatu pertunjukkan. Karena fokusnya adalah komunikasi di antara anggota-anggota suatu organisasi. Analisi komunikasi organisasi menyangkut penelaahan atas banyak transaksi yang terjadi secara simultan. 
2.3 Proses Komunikasi Organisasi
1. Komunikasi Internal
Pertukaran gagasan diantara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan dalam sruktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horizontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga pekerjaan berjalan. Dua dimensi komunikasi internal:
1.      Komunikasi vertikal, yaitu komunikasi dari pimpinan ke staf dan dari staf ke pimpinan dengan cara timbal balik.
2.      Komunikasi horizontal yaitu komunikasi mendatar antara anggota staf dengan anggota staf. Berlangsung tidak formal.
3.      Komunikasi diagonal yaitu komuniasi antara pimpinan. 
2.                  2.Komunikasi eksternal
Komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak diluar organisasi. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak yang bersifat informatif atau bisa juga komunikasi dari khlayak kepada organisasi 
2.4 Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Dalam suatu organisasi baik yang berorientasi komersial maupun sosial, komunikasi dalam organisasi atau lembaga tersebut akan melibatkan empat fungsi yaitu:
1.    Fungsi informatif
Organisasi dipandang sebagai suatusistem pemrosesan infromasi. Dimana seluruh anggota dalam organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi melaksanakan pekerjaan secara lebih pasti.
2.    Fungsi Regulatif
Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi.
3.    Fungsi Persuasif
Dalam mengatur organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Karena pekerjaan yang dilakukan secara sukarela akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibandingkan kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan.

4.    Fungsi Integratif
Setiap organisai berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dengan baik. Ada dua komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi dan laporan kemajuan organisasi, juga saluran komunikasi informal. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untukberpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.

2.5  Hambatan Komunikasi
1.      Hambatan teknis
Keterbatasan fasilitan dan peralatan komunikasi dari sisi teknologi yang semakin berkuranf dengan adanya temuan baru dibidang kemajuan teknologi komunikasi dan infromasi sehingga saluran komunikasi dapat diandalkan dan efisien sebagai media komunikasi. Menurut Cruden dan Sherman dalam buku Personel Management, 1976 jenis hambatan teknis dari komunikasi yaitu:
1.    Tidak adanya rencana atau prosedur kerja yang jelas
2.    Kurangnya informasi
3.    Kurangnya keterampilan membaca
4.    Pemilihan media yang kurang tepat.
2.      Hambatan Semantik
Gangguan semantik menjadi hambtan dalam proses penyampian ide secara efektif. Kata-kata membantu proses pertukaran timbal balil arti dan pengertian, tetapi seringkali keliru. Tidak adanya hubungan antara simbol dan apa yang disimbolkan dapat mengakibatkan kata yang dipakai ditafsirkan secara berbeda dari apa yang dimaksudkan sebernarnya.
3.      Hambatan Manusiawi
Terjadi karena adanya faktor emosi dan prasangka pribadi. Menurut Cruden dan Sherman hambatan manusiawi terdiri dari :
1.    Hambatan yang berasal dari perbedaan individual manusia
2.    Hambatan yang ditimbulkan oleh iklim psikologis dalam organisasi


BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Komunikasi adalah proses penyampaian infromasi dari seseorang kepada orang lain. Dalam organisasi, komunikasi sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi dan harus terselenggara dengan baik dan efektif.


DAFTAR PUSTAKA

Mulyana, Teori Komunikasi-modul 10, 2008
Jiwanto, Gunawan., Komunikasi dalam Organisasi, Pusat Pengembangan Manajemen & Andi Offset, Yogyakrta 1985
Miftah Thoha, Perilaku Organisasi, 1996
Pace R. Wayne and Faules, Don F, Komunikasi Organisasi, ROSDA, Bandung 2000
Wardy,Fatma.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22211/3/Chapter%20II.pdf  (29 Maret 2013   21:18)
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_organisasi (29 Maret 2013    21:25)










Read more