Minggu, 20 Oktober 2013

KALIMAT EFEKTIF

KALIMAT EFEKTIF
1.      Pengertian kalimat efektif
            Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis /pembicara. Sedangkan rasional kalimat efektif adalah kalimat yang harus mencakup syarat kelengkapan unsur sebuah kalimat karena sangat menentukan kejelasan sebuah kalimat. Oleh sebab itu sebuah kalimat harus memiliki paling tidak subjek dan predikat. Kalimat yang lengkap ini harus ditulis sesuai dengan Ejaan yang disempurnakan (EYD). Dalam membentuk sebuah kalimat yang efektif harus menggunakan kata-kata yang dipilih dengan tepat agar kalimat menjadi jelas maknanya.

2.      Ciri –ciri kalimat efektif
Ciri-ciri kalimat efektif sebagai berikut :
a.       Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP.
b.       Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku.
c.        .Menggunakan diksiyang tepat.
d.      Menggunakankesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis.
e.       Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai.
f.       Melakukan penekanan ide pokok.
g.       Mengacu pada kehematan penggunaan kata.
h.       Menggunakan variasi struktur kalimat

3.      Syarat-syarat kalimat efektif
Syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut:
a.       Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
b.       Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.

4.      Struktur kalimat efektif
Struktur kalimat efektif  haruslah benar. Kalimat itu harus memiliki kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk itulah yang menjadikan adanya kesatuan arti. Kalimat yang strukturnya benar tentu memiliki kesatuan bentuk dan sekaligus kesatuan arti. Sebaliknya kalimat yang strukturnya rusak atau kacau, tidak menggambarkan kesatuan apa-apa dan merupakan suatu pernyataan yang salah. Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya (yang pada umumnya terdiri dari kata) harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain. Kata-kata itu harus diurutkan berdasarkan aturan-aturan yang sudah dibiasakan. Tidak boleh menyimpang, aalagi bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akan menimbulkan kelainan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa itu. Misalnya, Anda akan menyatakan Saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkannya akan sangat lain, bila dikatakan:
1.    Buat Papa menulis surat saya.
2.    Surat saya menulis buat Papa.
3.    Menuis saya surat buat Papa.
4.    Papa saya buat menulis surat.
5.    Saya Papa buat menulis surat.
6.    Buat Papa surat saya menulis.
Walaupun kata yang digunakan dalam kalimat itu sama, namun terdapat kesalahan. Kesalahan itu terjadi karena kata-kata tersebut (sebagai unsur kalimat) tidak jelas fungsinya. Hubungan kata yang satu dengan yang lain tidak jelas. Kata-kata itu juga tidak diurutkan berdasarkan apa yang sudah ditentukan oleh pemakai bahasa.
Demikinlah biasanya yang terjadi akibat penyimpangan terhadap kebiasaan struktural pemakaian bahasa pada umumnya. Akibat selanjutnya adalah kekacauan pengertian. Agar hal ini tidak terjadi, maka si pemakai bahasa selalu berusaha mentaati hokum yag sudah dibiasakan.

5.      Persyaratan kalimat efektif secara formal
1.      Kesepadanan (koherensi)
Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Ciri- ciri nya, seperti tercantum di bawah ini:

a.       Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas.
Ketidak jelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek. Contoh:
§  Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. Salah
§   Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. Benar

b.       Tidak terdapat subjek yang ganda.
Contoh:
§  Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
§  Saat itu saya kurang jelas.
Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut :
§  Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
§  Saat itu bagi saya kurang jelas.

c.       Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh:
§  Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
§  Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut:
§  Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
§  Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
§  Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
§  Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.

d.      Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
§  Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
§  Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting.

Perbaikannya adalah sebagai berikut:
§  Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
§  Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting.

2.      Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
§  Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
§  Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat pertama tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu. Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
Kalimat kedua tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

3.      Ketegasan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
a.       Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
§ Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
Contoh:
§ Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden. Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.

b.      Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
§ Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
§ Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.

c.       Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
§ Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.

d.      Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
§ Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.

e.       Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
§ Saudaralah yang bertanggung jawab.

4.      Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan:
a.       Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Perhatikan contoh:
§ Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu. Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.

Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
§ Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu. Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.

b.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Perhatikan:
§ Ia memakai baju warna merah.
§ Di mana engkau menangkap burung pipit itu?
Kata merah sudah mencakupi kata warna. Kata pipit sudah mencakupi kata burung.
Kalimat itu dapat diubah menjadi:
§ Ia memakai baju merah.
§ Di mana engkau menangkap pipit itu?

c.       Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
§ Dia hanya membawa badannya saja.
§  Sejak dari pagi dia bermenung.
Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi
§ Dia hanya membawa badannya.
§ Sejak pagi dia bermenung.

d.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Misalnya:
Bentuk tidak baku : para tamu-tamu, beberapa orang-orang
bentuk baku : para tamu, beberapa orang.

5.      Kecermatan
Cermat adalah kalimat yang dihasilkan tidak menimbulkan tafsir ganda dan harus tepat diksinya. Prinsip kecermatan berarti cermat dan tepat menggunakan diksi. Agar tercapai kecermatan dan ketepatan diksi, harus memperhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini :
a.  Hindari penanggalan awalan
b. Hindari peluluhan bunyi/ c /
c.  Hindari bunyi / s /, / p /, / t /, dan/ k / yang tidak luluh
d.                   Hindari pemakaian kata ambigu
Contoh :
§  Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
§  Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.
Kalimat pertama memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguran tinggi. Kalimat kedua memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
Perhatikan kalimat berikut.
§  Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.
Kalimat ini salah pilihan katanya karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi
Yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.

6.      Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
a.  Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.Oleh karena itu, kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
Misalnya:
§  Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak keluar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab.
b.      Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
Contoh:
§  Surat itu saya sudah baca.
§  Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.

Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk:
§  Surat itu sudah saya baca.
§  Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.

c.       Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Perhatikan kalimat ini :
§  Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
§  Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumahadat.
Seharusnya:
§  Mereka membicarakan kehendak rakyat.
§  Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.

7.      Kevariasian
Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi. Repetisi atau pengulangan kata sebuah kata untuk memperoleh efek penekanan, lebih banyak menekankan kesamaan bentuk. Variasi tidak lain daripada menganeka-ragamkan bentuk-bentuk bahas agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang.
Macam-macam variasi :
a.       Variasi Sinonim Kata
Variasi berupa penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakekatnya tidak merubah isi dari amanat yang akan disampaikan.
Contoh : Dari renungan itulah penyair menemukan suatu makna, suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai seluruh puisi.

b.      Variasi panjang pendeknya kalimat
Struktur kalimat akan mencerminkan dengan jelas pikiran pengarang, serta pilihan yng tepat dari struktur panjangnya sebuah kalimat dapat member tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan.



c.       Variasi penggunaan bentuk me- dan di-
Pemakaian bentuk grametikal yang sama dengan beberapa kalimat berturut-turut dapat menimbulkan kelesuan. Sebaba itu haruslah dicari variasi pemakaian bentuk gramatikal.

8.      Kelogisan
Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh:
§  Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini. (tidak efektif)
§  Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini. (efektif)

6.      Kesalahan dalama menyusun kalimat efektif
a.  Pleonastis
Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu.
Contoh :
§  Salah : Banyak tombol-tombol yang dapat Anda gunakan.
§  Benar : Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.

b.  Kontaminasi
§  Salah : Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
§  Benar : Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.

c.    Salah pemilihan kata
§  Salah : Saya mengetahui kalau ia kecewa.
§  Benar : Saya mengetahui bahwa ia kecewa.

d.      Salah nalar
§  Salah : Bola gagal masuk gawang.
§  Benar : Bola tidak masuk gawang.

e.       Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi)
Bahasa asing
Contoh :
§  Saya tinggal di Semarang di mana ibu saya bekerja.

Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut:
§  I live in Semarang where my mother works.
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
§  Saya tinggal di Semarang tempat ibu saya bekerja.
Bahasa daerah
Contoh :
§  Anak-anak sudah pada datang.
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
§  Anak-anak sudah datang.

f.       Kata depan yang tidak perlu
§  Salah : Di program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
§  Benar : Program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
Ada beberapa hal yang mengakibatkan suatu tuturan menjadi kurang efektif, antara lain:
§  Kurang padunya kesatuan gagasan.
§  Kurang ekonomis pemakaian kata.
§  Kurang logis susunan gagasannya.
§  Pemakaian kata-kata yang kurang sesuai ragam bahasanya
§   Konstruksi yang bermakna ganda.
§  Penyusunan kalimat yang kurang cermat.
§  Bentuk kata dalam perincian yang tidak sejajar.




 DAFTAR PUSTAKA
Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia



0 komentar:

Posting Komentar